Showing posts with label books. Show all posts
Showing posts with label books. Show all posts

Saturday, July 30, 2011

Ways to Live Forever (Setelah Aku Pergi)



Buku yang tahun 2010 kemarin keliatannya sudah dibikin film nya. (belum nonton)

Berkisah tentang Sam, anak lelaki umur 11 tahun yang mengidap leukimia.
Di minggu - minggu terakhir kehidupannya, ia menulis buku harian yang berisi daftar2, cerita2, foto2, berbagai pertanyaan dan fakta seputar kematian.
Ya, kematian..

Salah satu fakta kehidupan yang tak terelakkan.

Sam membutuhkan jawaban atas pertanyaan - pertanyaan yang enggan dijawab orang - orang.

Dari awal saya sudah suka dengan covernya, dan sinopsis cerita di belakangnya.
Dan benar, cerita yang dikemas manis sekali, betul2 membuat saya berkaca2, antara lucu dan sedih.
Gimana ya, dituliskan dalam sudut pandang seorang anak 11 tahun, bertanya tentang kematian, dengan pertanyaan - pertanyaan yang polos, tapi nyesek..
Seperti, "Bagaimana kita tahu kita sudah mati?", "Sakitkah kalau mati?", "Kemana orang setelah mati?", atau "Apakah dunia masih ada setelah aku tidak ada?"

Juga tentang reaksi orang2 di sekitarnya, ayahnya yang berusaha tegar menyembunyikan emosinya, terkadang juga menyangkal (maklumlah, sebagai seorang ayah yang berharap lebih pada anak laiki - laki nya) , ibunya yang selalu sedih dan khawatir, adik perempuannya, Ella yang bingung tidak tahu harus berbuat apa dari hari ke hari (termasuk malam2 ke kamar Sam untuk memastikan bahwa Sam masih disana. aww..T.T )


Bagian2 lucu nya adalah saat dia dan Felix, sahabatnya (juga menderita kanker) yang nakal, konyol, slenge'an, tetapi logis (mungkin juga pesimis dalam memandang kehidupan), yang membantu Sam dalam mewujudkan hal - hal terakhir yang ingin dilakukannya.
Seperti nonton film2 horror berlabel 15-18+, melihat hantu, memecahkan rekor dunia untuk sesuatu yang konyol, merasakan menjadi remaja, minum2, merokok, dan.. punya pacar.. hihi..


Saat terkikik2 sendiri membayangkan tingkah mereka berdua, kemudian mucul juga pertanyaan dari saya selayaknya Sam, 

" Mengapa Tuhan membuat anak - anak jatuh sakit?"


Apakah Tuhan itu tidak ada? atau Tuhan itu sebenarnya ada tapi diam2 Dia jahat? suka menyiksa anak2 kecil untuk bersenang2 saja? (kata Felix) 
hehe.. tentu tidak ya..

Mungkin kita bisa mengerti kalau orang yang sudah tua pada akhirnya memang harus meninggal, tidak ada orang yang mau hidup selamanya, kan? 
Di film2 atau cerita tentang orang2 yang hidup abadi sepertinya mereka juga tidak terlalu senang, kesepian, dan sedih.
Kalau misalnya tidak ada orang yang mati, dan orang2 baru terus menerus lahir, mungkin dunia ini makin lama makin penuh, sampai akhirnya setiap orang mesti berdiri diatas kepala orang lain, dan kita terpaksa hidup di bawah air, atau di planet Mars? hehe.. (kata Sam)

Kita bisa mengerti itu semua, tetapi mengapa anak - anak harus meninggal?

Kalau kata Granny (nenek Sam), salah kalau melihat dari sudut pandang itu.
Katanya, mati ialah ibarat ulat yang hendak berubah menjadi kupu - kupu, yaitu tahap selanjutnya dalam kehidupan.
Seperti berubah menjadi spiderman adalah tahap selanjutnya dari kehidupan Peter Parker.
Jadi kita tidak perlu takut, malah harusnya antusias.

Semuanya tentang siklus matinya segala sesuatu yang lama, dan lahirnya yang baru - baru. Bintang - bintang lama berganti menjadi bintang - bintang - bintang baru, daun - daun yang sudah tua mati dan berganti dengan tunas - tunas muda.
Mesti ada sesuatu yang mati untuk kemudian lahir sesuatu yang baru.
Tidak perlu takut,
Segalanya pasti berubah dan mengalir.
Semua tergantung bagaimana cara kita memandangnya.


Yang pasti, seperti kata Sam,

"Kalian boleh saja sedih, tapi tidak boleh terlalu sedih. Kalau kalian selalu sedih waktu memikirkan aku, bagaimana kalian bisa mengingat aku?"








*Huaa.. dek Saaammm.. cini - cini, kakak pelukkk..

Sunday, May 29, 2011

Alon - Alon Waton Kelakon

Alon - alon waton kelakon alias tidak terburu- buru dalam bertindak, perlahan tetapi pasti..

Penggalan diatas mengingatkan saya pada sebuah buku cerita anak - anak (yang sejujurnya saya baca ketika sudah tidak lagi sebagai anak -anak, eheee.. ), judulnya Momo karangan Michael Ende,




Berkisah tentang gadis kecil misterius bernama Momo yang tidak jelas asal usulnya, tinggal sebatang kara di sebuah amphitheater. Ya, tidak jelas darimana ia berasal, siapa bapak ibu nya, berapa umurnya, namun yang menarik dari Momo adalah bahwa ia punya suatu kemampuan luarbiasa yang jarang dimiliki orang, yaitu kemampuan mendengarkan. Weits, jangan anggap remeh ya..
Those who still think that listening isn't an art should see if they can do it half as well!

Jadi, Momo ini senang sekali mendengarkan cerita orang.. siapa saja, bahkan orang pendiam sekalipun benar - benar ia tunggu sampai mau bercerita. Untuk itulah, banyak orang di kota senang mengunjungi Momo untuk didengarkan. Bahkan ada, mereka yang sedang berselisih, datang menceritakan masalahnya kepada Momo, yang kemudian pulang dengan perasaan damai dan saling bersahabat kembali.
Bukan, Momo bukan seorang pemecah masalah ulung atau pemberi solusi yang hebat.
Momo hanya sabar, mendengarkan keluh kesah semua orang. Mereka awalnya datang dengan emosi meluap - luap, menceritakan problem hidupnya, lalu lama kelamaan berangsur mereda, setelah itu mereka dapat melihat segalanya dengan jernih dan berpikir yang terbaik untuk masalah mereka sendiri.

Dengan kemampuannya ini, Momo menjadi sahabat semua orang.
Termasuk diantaranya, dua sahabat baiknya, Guido (Pemandu Wisata) dan Beppo (Tukang Sapu Jalanan).
Sifat keduanya sangat bertolak belakang, kalau Guido orangnya optimis dan suka sekali bercerita, ia tidak pernah kehabisan hal untuk diceritakan, selalu saja ada yang baru dan tidak pernah sama ceritanya. Sementara Beppo, orangnya pendiam. Ketika orang bertanya ia hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa - apa. Kalaupun ia harus manjawab pertanyaan itu, ia akan memikirkannya lama sekali sebelum menjawab (terkadang orang yang bertanya sampai lupa apa pertanyaannya tadi).
Hanya Momo yang dengan sabar menunggu jawaban Beppo, dan walaupun lama pasti Beppo akan menjawab dengan jujur. Beppo percaya bahwa kesulitan yang ada di dunia ini terjadi karena banyak yang tidak berkata jujur, dan seringkali tanpa disadari.


Namun tak lama kemudian, datang atmosfir yang tidak menyenangkan.
Mereka adalah Para Tuan Kelabu si pencuri waktu dari Bank Waktu (waktu baca ini, yang saya bayangkan tentang para tuan kelabu ini kayak agen MLM2 gitu ya, baju rapi, bawa koper, haha)
Mereka membujuk orang - orang untuk menyimpan/ menabung waktu mereka. Dengan cerdiknya, mereka meyakinkan orang - orang bahwa selama ini orang - orang menghabiskan dengan percuma, membuang2 waktu untuk hal yang tidak berguna dalam hidup mereka. Naah, hampir semua orang dewasa termakan jebakan betmen ini (karena anak - anak susah dipengaruhi). Di sudut - sudut kota terpampang iklan - iklan dengan tulisan, "Waktu adalah Uang", "Waktu itu Berharga, Jangan Dibuang", "Berbuatlah Lebih Banyak Lagi untuk Hidup Anda. Simpanlah Waktu", dan berbagai macam iklan yang bernada serupa. Pengaruh Tuan Kelabu semakin menginfeksi seluruh kota, kehidupan menjadi hampa, orang - orang menghindari kegiatan - kegiatan yang membuang waktu, seperti aktivitas sosial, seni, piknik, melamun, mengkhayal, atau bahkan tidur. (waah.. paraaah, kegiatan favorit saya semuaa.. :p)

Bangunan, jalan - jalan, bahkan pakaian pun semua didesain serupa, persis sama untuk semua orang. Dan semua tidak ada yang protes, karena mereka tidak lagi memperdulikan sekitar, dan irama kehidupan di kota semakin tidak tenang, serba terburu - buru. Kasian orang - orang, mereka tidak tahu bahwa sebenarnya waktu yang telah mereka simpan, digunakan oleh para tuan kelabu sebagai bahan dasar membuat cerutu yang selalu mereka hisap. tanpa cerutu ini, mereka akan musnah.

Melihat ini, Momo kemudian memutuskan untuk membantu mengembalikan situasi kota menjadi nyaman kembali. Dengan ditemani sahabat barunya, Cassiopeia, si kura - kura, ia menemui Mpu Hora, Sang Penguasa Waktu.





Membaca novel ini, kita disuguhkan simbol - simbol kehidupan, permasalahan mendasar yang ada di dunia, tentang betapa pentingnya waktu, dan nilai tentang hal - hal sederhana yang kita lakukan, namun kita menikmatinya. Itulah yang membuat hidup terasa berharga.
Kita kadang tidak sadar, terperdaya oleh para tuan kelabu (hayooo lo.. ), menganggap waktu adalah uang, semua harus serba cepat, terburu - buru, hingga kita lupa pada persoalan - persoalan sederhana yang membuat bahagia.. contohnya, saya senang memberi makan anjing saya, mengajak ngobrol ikan peliharaan saya, atau bermain - main busa sabun ketika mandi (sampe dimarahi habis2an oleh bapak, ibu, kakak2 karena lamaaa banget di kamar mandi). Mungkin menurut sebagian orang hal itu tidak berguna dan hanya membuang waktu, tapi menurut saya engga tuh.. paling tidak hal tersebut membuat saya bahagia, hihihi..
Coba kalau orang - orang yang hidupnya hanya habis untuk bekerja, untuk hal - hal remeh tersebut mereka tidak punya waktu. Seolah hidupnya stress dan mengikuti alur yang membosankan, dan tujuannya?
hahaa.. gak jelas!
Seperti yang dibilang Carey Mulligan kepada Kepala Sekolah nya di film An Education, "Studying is hard and boring. Teaching is hard and boring. So, what you're telling me is to be bored, and then bored, and finally bored again, but this time for the rest of my life? This whole stupid country is bored! There's no life in it, or color, or fun!"


Oke mungkin sebagian besar dari kita memikirkan tentang masa depan.
Bekerja terus - terusan, dari pagi sampai malam atau bahkan pagi lagi, melakukan apa saja agar karir kita sukses, sampai seringkali mempertaruhkan kebahagiaan kita sendiri, hingga kehilangan momen - momen indah dengan keluarga atau orang - orang terkasih.
Tidak jarang kita mendengar, orang yang mati - matian bekerja, tak kenal waktu, hingga lupa pada kesehatannya sendiri, pada akhirnya, segala jerih payahnya bekerja harus ia habiskan untuk membiayai rumah sakit.. ohh.. mengharukan..
Atau saat jamuan makan, seseorang sibuk dengan hape nya, berkomunikasi dengan rekan bisnis nya, sampai tidak lagi memperdulikan keluarganya sendiri.
Seperti syair Sapardi Djoko, "memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga, sampai pada suatu hari, kita lupa untuk apa.."

Ohh.. apa kalian mengijinkan Para Tuan Kelabu merampas kebahagian kalian???






*Beteweh, saya suka karakter Beppo di cerita ini..
Tentang caranya melakukan kebiasaan menyapu jalan.
Beppo menyapu sepanjang hari, bermil2 jauhnya. Bisa jadi, memikirkannya pun tak sanggup. Tapi Beppo, berusaha tidak memikirkan besar daerah yang harus disapunya hari ini. Dia hanya fokus kepada satu langkah sapuan ke depan, terus dan terus. Ketika orang lebih senang melihat hal yang besar dan bukan fokus pada langkah - langkah kecil untuk menyelesaikan hal besar itu, orang - orang sering terjebak panik terlebih dahulu, akhirnya memulai terburu - buru dan kerja dengan cepat. Ketika dia kemudian berhenti untuk melihat sudah sejauh mana langkah yang diambil, yang sering terlihat adalah betapa masih banyak langkah yang belum diambil. Masih jauhhhh dari kata selesai.
Tapi untuk Beppo, dengan mengambil langkah - langkah kecil, Beppo berusaha mencintai dan menikmati setiap langkah kecilnya itu. Mencintai dan menikmati momen, itulah kuncinya. Ketika akhirnya selesai menyapu, ia  mendapat 2 keuntungan : ia selesai menyapu jalan yang panjang, dan juga menikmati setiap langkah penyapuan jalan tadi. Oh! betapa beruntungnya orang yang mencintai setiap langkah kecil untuk menyelesaikan perkara yang besar..

Wednesday, May 18, 2011

Ketenangan yang Dalam




"Barangkali, sebagai ahli bela diri, 
aku tidak bertarung demi perolehan atau kehilangan, 
tidak memikirkan kekuatan atau kelemahan, 
dan tidak maju selangkah atau surut selangkah. 
Musuh tidak melihatku. Aku tidak melihat musuh. 
Menembus masuk ke suatu tempat dimana 
langit dan bumi belum terpisah, 
dimana Yin dan Yang belum tiba, 
dengan cepat dan efisien aku memberikan efek."








*Salah satu kutipan dari buku The Lone Samurai (pembukaan biksu Takuan dalam Babad Perang Taia).
Suka aja sama kutipan nya,
walaupun bukunya belum selesai dibaca..

Monday, April 11, 2011

Marilah Kita Saling Mencintai dan Mengasihi

Bila kita bertanya tentang makna cinta, tanyalah kepada alam, sekeliling kita. Tengoklah bunga mawar, pepohonan, sungai, mata air.. Mungkinkah bunga mawar hanya memberikan keharuman kepada orang baik saja dan tidak kepada mereka yang jahat? Seperti halnya sebatang pohon, tanpa pilih kasih, memberikan tempat berteduh bagi setiap orang, baik dan buruk, tua dan muda, tinggi dan rendah, apapun profesinya, bentuk fisiknya, tidak hanya manusia, tetapi juga binatang, dan segala jenis makhluk hidup (bahkan makhluk halus, mungkin.. mbak kunti.. :p). Itulah sebabnya mengapa kita didorong untuk menjadi seperti Allah, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat maupun orang yang baik dan menurunkan hujan kepada orang yang benar maupun orang yang tidak benar.


Lalu, kalau begitu, apa harus kita lakukan untuk memiliki cinta yang demikian sempurna seperti itu?


Tidak ada..


Tidak ada yang dapat kita lakukan..
Mengapa?
Karena pada akhirnya hanya akan menimbulkan perasaan terpaksa, diperalat, dan kepura - puraan (karena cinta tidak dapat dipaksakan).


Namun ada yang dapat kita lepaskan..
Maksudnya, berhentilah melihat orang - orang sebagai baik dan buruk, kudus maupun berdosa, lihatlah mereka sebagai yang tidak sadar dan tidak tahu. (Tak seorangpun dapat berbuat dosa dalam kesadaran. Dosa terjadi dalam ketidaktahuan, bukan dalam kebencian seperti yang kita pikirkan. "Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.") 
Jadi, poin pertama, sifat cinta adalah tidak membeda - bedakan, seperti halnya pepohonan dan bunga mawar.


Kemudian sifat cinta yang kedua adalah cuma - cuma atau tidak mengharapkan imbalan. Memberi dan tidak meminta balas jasa. Bagaimana caranya? Yakni dengan jalan membuka mata dan melihat, menyingkapkan apa sesungguhnya yang selama ini kita sebut dengan cinta. Apakah hanya kamuflase atas egoisme dan keserakahan kita saja.


Sifat berikutnya dari cinta adalah, ketidaksadaran diri. Cinta begitu bahagia dengan mencintai sehingga tidak sadar akan dirinya. Seperti bunga mawar yang menebarkan keharumannya begitu saja, tanpa peduli ada atau tidaknya orang yang mencium keharumannya. Seperti pohon yang memberikan keteduhan. Keharuman dan keteduhan ada bukan karena ada manusia atau mati bila tidak ada manusia. Mereka ini, seperti juga cinta, lepas dari manusia. Cinta begitu saja ada, tanpa perlu memiliki objek, terlepas apakah mereka menguntungkan seseorang atau tidak.


Sifat terakhir dari cinta adalah bebas. Saat paksaan, kendali, atau konflik muncul, cinta mati. Pikirkan bagaimana mawar, pohon, membiarkan kita sungguh - sungguh bebas. Pohon tidak akan berusaha menarik orang ke dekatnya untuk berteduh biarpun ia berada di bawah terik matahari.
Pikirkanlah sejenak saat - saat ketika kita menyerah pada paksaan dan kendali orang lain karena ingin bertindak sesuai dengan harapan mereka dalam usaha membeli cinta dan penerimaan dari mereka, atau karena kita takut kehilangan mereka.
Setiap kali kita menyerah pada kendali dan paksaan, kita merusak kemampuan kodrati kita untuk mencintai, karena kita hanya dapat melakukan apa yang orang lain (dengan seizin kita) lakukan terhadap diri kita. Renungkanlah..


Kemudian, ketika paksaan dan kendali itu hilang, kebebasan akan muncul.
Kebebasan adalah kata lain dari cinta.. 




*Lagi, permenungan yang saya dapat dari buku karangan Anthony de Mello.. :)

Friday, April 8, 2011

By The River Piedra I Sat Down and Wept (Paulo Coelho)






Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis...

Novel yang sangat indah, yang saya pinjam hanya dengan harga 2900 di persewaan buku bacaan tak jauh dari rumah. Sebenarnya dilihat dari sampulnya, saya sudah merasakan suatu emosi yang tidak bisa dijelaskan,  dan tertarik untuk membacanya. Novel ini bercerita banyak tentang cinta dan kehidupan spiritual, termasuk campuran yang rumit antara keduanya. Di dalamnya juga banyak ungkapan - ungkapan cinta yang syahdu dan bermakna sangat dalam..

Berkisah tentang seorang wanita, Pilar yang menemukan kembali cinta pertamanya sejak belasan tahun berpisah. Cinta yang dahulu tumbuh di hati masing2 dari mereka, namun malu untuk diungkapkan. Pilar tumbuh menjadi wanita dewasa yang tegar, yang mampu mengendalikan perasaannya dengan amat baik. Sementara kekasihnya menjelma sebagai pemimpin spiritual, dan memilih religi sebagai pelarian dari konflik - konflik batin yang dirasakannya. 
Cinta yang belasan tahun terkubur dalam di hati mereka, perlahan bangkit dengan tertatih - tatih. Pembatas itu adalah prinsip, idealisme, gengsi, dan kenyataan pahit bahwa kini mereka berada dalam dua dunia yang berbeda. Bersama, mereka menyusuri perjalanan untuk mewujudkan mimpi - mimpi mereka, tawa, tangis, bahagia, derita, dan kematangan spritiual yang kemudian menghadapkan mereka pada persoalan - persoalan terpenting dalam kehidupan.

Novel ini memberikan banyak pandangan kepada saya tentang cinta, bukan cinta dalam konteks sempit saja, namun kemudian cinta yang lebih luas, tentang Tuhan dan religiusitas. Bahwa pada dasarnya, kehidupan spiritual adalah mencintai. Kita tidak mencintai demi melakukan kebaikan atau untuk menolong atau melidungi seseorang. Kalau ini terjadi, kita sama saja menjadikan orang lain sebagai obyek, dan menganggap diri kita orang yang bijaksana dan murah hati. (tidak ada hubungannya dengan cinta!)

Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan dalam diriNya.

Saya jadi ingat beberapa saat yang lalu, ketika saya dan teman FB saya Pieter, dari Belanda saling mengobrol cukup serius tentang keeksistensian Tuhan. Bermula ketika ia menanyakan keadaan saya berkaitan dengan tsunami yang terjadi beberapa waktu lalu di Jepang. Saya pun memastikan padanya bahwa saya baik - baik saja karena tsunami waktu itu tidak sampai ke Indonesia. Kemudian saya bilang padanya, saya selalu berdoa untuk para korban yang meninggal maupun yang belum ditemukan. Saya cukup surprised ketika mendapati pesan balasannya yang mengatakan bahwa dia sebenarnya tidak percaya pada Tuhan (meskipun ia dibesarkan dalam keluarga dengan background agama Katolik). Kemudian saya bilang padanya, bahwa saya juga bukanlah orang yang religius. Saya tidak tahu apa - apa soal agama, karena saya tidak terlalu perduli pada hal tersebut. Maksud saya, saya berdoa dengan jalan dan cara saya sendiri, yang cukuplah dipahami oleh kami berdua saja, saya dan Tuhan sendiri. Saya mengenal Tuhan sebagai sahabat yang sangat menyayangi saya dan saya sayangi (tentunya!). Bukan sebagai sosok penuh kemarahan yang senantiasa menyalahkan manusia atas kematian Putera TunggalNya di kayu salib.

"Rarely do we realize that
we are in the midst of the extraordinary. Miracles occur all around us, signs
from God show us the way, angels plead to be heard, but we pay little attention
to them because we have been taught that we must follow certain formulas and
rules if we want to find God. We do not recognize that God is wherever we allow
Him/Her to enter.. "

Jarang sekali kita menyadari bahwa kita berada ditengah2 hal hal yang luar biasa. mukjizat terjadi di sekeliling kita, pertanda - pertanda dari Tuhan menunjukkan jalannya kepada kita, para malaikat memohon untuk didengarkan, namun kita tidak menyadari semua ini karena kita telah diajari bahawa jika ingin menemukan Tuhan,kita harus mengikuti rumus atau aturan2 tertentu. 

Kita tidak menyadari bahwa Allah ada dimanapun Ia diijinkan

"Traditional religious practices are important: they allow us to share with
others the communal experience of adoration and prayer. But we must never forget
that spiritual experience is above all a practical experience of love. And with
love, there are no rules. Some may try to control their emotions and develop
strategies for their behavior; others may turn to reading books of advice from
"experts" on relationships but this is all folly. The heart decides, and what it
decides is all that really matters.."

Praktek - praktek religius tradisional memang penting, 
memberi kita kesempatan untuk berdoa dan menyembah bersama sesama umat. Tapi kita tidak boleh lupa bahwa pengalaman spiritual sesungguhnya adalah pengalaman praktis dari cinta.
Dan cinta tidak mengenal peraturan. Sebagian orang mungkin mencoba mengendalikan perasaan mereka dan mengatur tindak tanduk mereka. Yang lain mungkin membaca buku berisi saran - saran para 
"ahli" masalah hubungan, tapi semua ini tindakan bodoh. Hatilah yang memutuskan dan apa yang diputuskan, inilah yang paling berarti. Cepat atau lambat kita harus mengatasi ketakutan kita, karena jalan spiritual hanya dapat ditempuh melalui pengalaman sehari - hari akan cinta.

Ada orang - orang yang meninggalkan segalanya dan pergi mencari Tuhan, mereka keliru. 
Orang yang pergi mencari Tuhan hanya membuang - buang waktu, ia bisa menempuh ribuan jalan dan memeluk banyak agama dengan aliran, namun ia tak akan menemukan Tuhan dengan cara itu. 

Kenapa?

Karena Tuhan ada disini, pada saat ini, di sisi kita..

Untuk menemukan Tuhan, kita hanya perlu memandang sekitar kita..


Namun menemukan Tuhan tidaklah mudah, semakin Tuhan meminta kita mengambil bagian dalam misteri - misteri Nya, semakin bimbang kita, karena Dia terus menerus meminta kita mengikuti mimpi - mimpi dan suara hati kita. 

Akhirnya kita terkejut, menyadari bahwa Tuhan menginginkan kita bahagia.

"The closer we get to God through our faith, the simpler He becomes. And the simpler He becomes, the greater is His presense.."

Semakin dekat kita kepada Tuhan lewat iman kita, maka semakin sederhana pula Tuhan itu. 
Semakin sederhana Tuhan, maka semakin besar keberadaan-Nya.


Naah..
Kembali ke masalah romantika, novel ini bilang,
Dalam kehidupan nyata, cinta harus memiliki kemungkinan. Bahkan kalaupun tidak langsung berbalas, cinta hanya dapat bertahan jika ada harapan kau akan memenangkan hati orang yang kaucintai.
Selebihnya hanya fantasi.

Jujur, seringkali logika saya berusaha mengingkari bahwa saya tak memiliki harapan bersamanya. Namun, jauh di dalam lubuk hati saya, saya yakin, yakin dengannya. Bahwa ada kemungkinan dia yang saya sayangi akan saya menangkan hatinya. 

Meskipun mencintai berarti meninggalkan, sendirian, dan kepedihan, cinta sangat layak berapapun resiko yang harus dibayar. Kita hanya perlu menerimanya, karena cintalah yang memelihara keberadaan kita. Jika kita menolak cinta, kita akan mati kelaparan, karena kita tidak lagi memiliki keberanian untuk mengulurkan tangan dan memetik buah - buah dari dahan - dahan pohon kehidupan. Kita harus menyambut cinta dimanapun kita menemukannya, meskipun itu berarti berjam - jam, bahkan berminggu - minggu kekecewaan dan kegetiran. Di saat kita mulai mencari cinta, cinta pun mencari kita. Dia menyelamatkan kita.

Cinta tidak banyak bertanya, karena kalau berhenti sejenak untuk berpikir, kita menjadi takut. Ini jenis takut yang tak dapat dijelaskan, bahkan sulit digambarkan. mungkin takut dicemooh, takut tidak diterima, takut merusak daya magisnya. Memang konyol, tapi begitulah yangterjadi. Itu sebabnya kita tidak perlu bertanya - melainkan bertindak..




*apa - apaan ini?? serius sekali yaa pembicaraannya, mandi dulu dehhhh.. :D